Biaya Naik Haji Mencapai Nilai Fantastis, Damayanti Berikan Sorotannya
PALAGANMEDIA.ID, SAMARINDA – Biaya ibadah haji yang kian mahal bahkan mencapai kisaran Rp55 juta itu kini menjadi persoalan mendasar bagi jutaan umat Islam di Indonesia. Tak sedikit yang harus menunggu bertahun-tahun, bukan hanya karena antrean panjang, tetapi juga karena beban finansial yang kian berat.
Namun, secercah harapan mulai tampak. Pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah menyusun langkah konkret untuk menurunkan biaya haji, agar lebih terjangkau dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Damayanti, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuhnya. “Tentu kami wakil rakyat menyambut baik keinginan Presiden untuk menurunkan biaya haji,” sebutnya.
Damayanti, menyambut positif rencana pembangunan perkampungan haji Indonesia di Mekkah. Menurutnya, langkah strategis ini bisa menjadi terobosan nyata untuk memangkas salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya haji yakni akomodasi.
Namun, Damayanti juga mengingatkan bahwa perbaikan sistem haji tak bisa berhenti di infrastruktur saja. Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia, terutama kinerja Badan Pengelola Haji (BP Haji). Transparansi, efektivitas, dan kualitas layanan, menurutnya, harus menjadi prioritas ke depan.
Dengan pembangunan perkampungan haji dan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, ia berharap ke depan umat Islam Indonesia bisa menunaikan ibadah haji dengan biaya yang lebih ringan, pelayanan yang lebih layak, dan pengalaman spiritual yang lebih bermakna.
“Sudah terlalu sering kita mendengar keluhan masyarakat mengenai pelayanan haji yang tidak memuaskan, padahal biaya yang dikeluarkan sangat besar dan waktu tunggu keberangkatan pun sangat panjang. Ini adalah catatan serius yang memerlukan solusi struktural yang komprehensif,” imbuhnya.
Mengacu pada Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2025 yang mencapai Rp89,41 juta, dengan Biaya Ibadah Haji (Bipih) yang dibayarkan langsung oleh jemaah sebesar Rp55,43 juta, Damayanti membandingkannya dengan biaya haji di Malaysia.
Jemaah haji Malaysia dari kelompok berpendapatan rendah (B40) hanya membayar sekitar Rp36,3 juta, dan kelompok menengah (M40) sekitar Rp53 juta, berkat adanya skema subsidi yang diterapkan oleh pemerintah setempat.
“Perbandingan biaya ini jelas menunjukkan bahwa penyelenggaraan haji di Indonesia masih memerlukan pembenahan yang signifikan. Sistem antrean yang panjang dan fasilitas yang seringkali tidak sesuai ekspektasi adalah dua contoh dari sekian banyak keluhan jemaah,” tuturnya.
Ia juga menyoroti kekecewaan jemaah yang telah menabung bertahun-tahun namun pada akhirnya mendapati fasilitas yang jauh dari harapan. “Ini sangat disayangkan. Pembentukan BP Haji diharapkan dapat membawa perubahan besar dalam hal ini,” imbuhnya.
Ia menegaskan pentingnya melakukan transparansi, akuntabilitas, dan peningkatan layanan haji. Damayanti berharap BP Haji dapat menciptaka sistem yang adil demi kepuasan jemaah.
“Kita ingin jemaah merasa aman, nyaman, dan terlayani dengan baik selama menjalankan ibadah haji. Jangan sampai momen sakral ini ternoda oleh masalah teknis dan manajerial yang seharusnya bisa diantisipasi,” tandasnya. (Ahmad/Adv/DPRDKaltim)
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







