Palagan Media
Beranda Kutai Kartanegara Samboja Barat Jadi Sentra Sayur Modern, Petani Incar Pasar IKN

Samboja Barat Jadi Sentra Sayur Modern, Petani Incar Pasar IKN

Foto : Camat Samboja Barat, Burhanuddin (Istinewa)

TENGGARONG – Kecamatan Samboja Barat, yang dulunya lebih dikenal sebagai kawasan perbukitan dan hutan lindung Bukit Suharto, kini menjelma menjadi salah satu motor pertanian sayur modern di Kalimantan Timur (Kaltim). Dengan pendekatan pertanian hidroponik dan budidaya berbasis teknologi, wilayah ini menjadi contoh nyata transformasi pertanian yang digerakkan dari desa.

Komoditas seperti tomat, cabai, selada, timun, hingga pepaya California kini tumbuh subur di tangan para petani dari Desa Karya Merdeka, Sungai Merdeka, hingga Salopi Laut. Uniknya, sekitar 80 persen pasokan sayuran hidroponik yang beredar di pasar-pasar Kota Balikpapan ternyata berasal dari Samboja Barat.

Camat Samboja Barat, Burhanuddin, menyebutkan bahwa capaian tersebut bukan hasil instan, melainkan buah dari kerja keras bertahun-tahun. “Dulu orang belum melirik pertanian di Samboja Barat, sekarang kami jadi tulang punggung pasokan sayur segar di daerah urban. Tapi perjuangan petani belum selesai,” katanya, Senin (7/4/2025).

Salah satu tantangan yang masih menghambat pengembangan adalah ketergantungan pada tengkulak dalam distribusi hasil panen. Menurut Burhanuddin, jika petani bisa bermitra langsung dengan pemerintah atau badan usaha di Ibu Kota Nusantara (IKN), maka nilai jual bisa jauh lebih tinggi.

“Selama ini harga masih dimainkan tengkulak. Kalau ada jalur distribusi langsung ke IKN, petani bisa lebih sejahtera,” ujarnya.

Burhanuddin juga menyoroti keberhasilan Kelompok Tani Rawa Lombor yang kini mulai dilirik sebagai model pertanian kolektif berbasis komunitas. Dengan lahan terbatas, kelompok ini mampu memproduksi secara berkelanjutan, bahkan mulai merambah peluang industri pangan olahan.

Meski demikian, penguatan infrastruktur tetap menjadi prioritas agar Samboja Barat dapat melangkah lebih jauh. Akses jalan menuju sentra pertanian, jaringan irigasi, dan alat produksi modern dinilai masih belum memadai untuk mengimbangi lonjakan produksi.

“Potensi kami besar, tapi harus ditopang sarana yang kuat. Jangan sampai semangat petani padam karena kurangnya dukungan,” tegasnya.

Samboja Barat juga mulai merancang program inkubasi pertanian untuk generasi muda, agar regenerasi petani tetap berjalan. Dukungan pelatihan, pemasaran digital, hingga akses pembiayaan menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

“Kami ingin pertanian tidak hanya bertahan, tapi tumbuh dan bersaing. Dengan arah yang jelas dan dukungan nyata, Samboja Barat siap jadi lumbung sayur masa depan bagi Kukar dan IKN,” pungkasnya.

Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan