Bukan Hanya Tugas Sekolah, DP3A Kukar Ingatkan Bahaya Judi Online Dimulai dari Rumah
TENGGARONG — Di era serba digital ini, ancaman terhadap anak-anak tidak lagi datang dari luar rumah, melainkan dari genggaman mereka sendiri. Salah satu yang paling mencemaskan adalah judi online, sebuah jerat halus yang bisa menghancurkan masa depan generasi muda tanpa suara.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) angkat bicara terkait darurat sosial ini. Hero Suprayitno, Plt Kepala DP3A Kukar, mengingatkan bahwa ancaman judi online terhadap anak-anak adalah nyata, masif, dan kerap tidak terdeteksi sejak dini.
“Anak-anak kita hari ini sangat cakap dalam teknologi, tapi belum cukup bijak dalam menggunakannya. Di situlah peran keluarga sangat krusial,” ujarnya, Jumat (23/5/2025).
Meskipun hingga kini Kukar belum mencatat kasus langsung keterlibatan anak dalam judi online, Hero menyebut data nasional yang menunjukkan 80 ribu anak usia 10–13 tahun telah terjerat judi daring sebagai sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan.
“Ini darurat. Jangan tunggu sampai anak-anak kita jadi bagian dari angka itu,” tegasnya.
DP3A Kukar telah mulai menggencarkan sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah, Satpol PP, hingga OPD terkait untuk membentuk sistem pencegahan dini yang terintegrasi. Namun, Hero menggarisbawahi bahwa benteng utama tetaplah keluarga.
Menurutnya, masih banyak orang tua yang belum memahami betapa mudahnya anak-anak mengakses konten berbahaya, meski sudah ada pembatasan gadget di sekolah. Di rumah, dengan satu ponsel dan jaringan Wi-Fi tanpa kontrol, celah tetap terbuka lebar.
“Kontrol teknologi tidak bisa berdiri sendiri. Yang paling dibutuhkan adalah kontrol emosional, kedekatan orang tua dan anak,” tambah Hero.
Ia juga menyoroti pengaruh kuat teman sebaya sebagai pintu masuk anak ke praktik judi digital. Lingkungan sosial yang permisif dan minim pengawasan menjadikan anak-anak lebih rentan terpapar.
Karena itu, DP3A Kukar mendorong upaya kolektif: literasi digital keluarga, pelatihan deteksi dini perilaku anak, dan peningkatan komunikasi dalam rumah tangga. Guru dan orang tua perlu dibekali pemahaman untuk mengenali perubahan emosi dan perilaku yang bisa menjadi tanda awal keterlibatan anak dalam dunia maya berisiko.
“Menjaga anak bukan sekadar memasang aplikasi pelindung. Tapi hadir sebagai pelindung itu sendiri, melalui perhatian, waktu, dan komunikasi yang tulus,” tutup Hero. (Adv/Diskominfo/Kukar)
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







